Posted by : Unknown Jumat, 20 November 2015

Judul : Haru no Hana
Penulis : Cuncun
Penerbit : Ping!!!
Cetakan : November, 2013
Hal : 156 hal
Isbn : 978-602-255-171-3

Baiklah, ini adalah novel ke dua naskah terbaik #LombaNovelJepang 2013 yang saya baca. Setelah sebelumnya saya membaca naskah terbaik lainnya; “Yosh!” karangan Far Choinice. Tentunya, setelah membandingkan novel ini dengan Naskah Terbaik Jepang lainnya, pasti akan ada banyak sekali kekurangan dan kelebihan dalam masing-masing novelnya.

Novel ini berkisah tentang seorang Hana, gadis tuna wicara yang sangat berbakat dalam bermain musik—khusunya biola. Namun, dalam hal ini, bukan permainan musiknya yang ditonjolkan oleh penulis. Melainkan hubungan peliknya dengan seorang pemuda bernama Haruka Ichijou yang sangat membencinya karena sebuah keirian. Hal itu bukan tanpa sebab. Haruka sangat membenci Hana sejak gadis itu pertama kali masuk ke Universitas tempat dia belajar. Ayah Haruka begitu mengagumi bakat luar biasa Hana dalam bermusik. Karena itu pula ayahnya begitu dekat dan sangat menyayangi Hana seperti putrinya sendiri. Dan, karena semua itu Haruka merasa kalau ayahnya selalu membanding-bandingkan dirinya dengan Hana. Sampai-sampai sang ayah lebih memilih Hana untuk tampil dalam acara festival tahunan daripada dirinya. Ayahnya menganggap kalau Haruka tidak akan bisa tampil di hadapan orang banyak. Dia juga sama sekali tidak mendukung permainan musik Haruka.

Masalah semakin berlanjut ketika Hana meminta Ichijou-sensei—ayah Haruka—untuk memperbolehkan dirinya berduet dengan Haruka, namun ditolaknya. Tapi, Hana tidak menyerah sampai di situ. Gadis itu tetap mengusahakan berbagai cara agar mereka berdua bisa tampil duet untuk festival. Selain itu, rencana kepergian Hana ke Amerika Serikat untuk bersekolah musik di Juliard yang tak terduga juga membuat hubungan mereka jadi tak tentu arah.

Sebelum kepergiannya ke Amerika, Hana berusaha menyatakan perasaannya pada Haruka. Dia juga bercerita tentang pengalaman masa lalu mereka yang mungkin sudah dilupakan oleh Haruka. Dari situlah kemudian hati Haruka sedikit tergerak. Dia tidak menyangka kalau gadis yang pernah ditolongnya saat di Shinkansen adalah Hana.

Ups!! Kayaknya nggak baik, ya, kalau diceritakan terlalu detail. Meskipun saya telat pakai banget baca neh novel, tapi setidaknya saya masih ada waktu untuk membacanya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan? Heheh
@@@

Menjadi bayang-bayang dari orang lain, hidup dibanding-bandingkan, dan keberadaan nyata keindividuanku tak pernah dianggap ada. Membuat hati dan pikiranku sakit ~Ichijou Haruka~

Setelah membaca blurb di atas, apa yang ada di benak kalian? Kira-kira ending seperti apa yang akan diberikan dalam novel ini? Well, dari awal baca, saya sudah bisa menebak akan ke arah mana hubungan mereka. Sebenci-bencinya tokoh dalam sebuah novel, pasti ujung-ujungnya akan kembali juga sama yang dibencinya :p di sini, penulis mengeksplor dengan baik perasaan masing-maisng tokohnya. Quote-quote diary's yang ditulis pun juga sangat apik dan ngena banget. Intinya saya suka. Kalau saya, neh, mungkin agak sedikit kesulitan jika harus memilih tokoh saya sebagai tuna wicara. Secara saya sama sekali tidak tahu soal kehidupan mereka itu bagaimana. Sekali pun kita bisa riset dan meminta bantuan mbah google. Tapi, saya masih bertanya-tanya, kenapa penulis memilih tokohnya sebagai seorang tuna wicara? Apakah jika Hana gadis yang normal, cerita akan berbeda seperti yang sudah ada? Hmm, entahlah ....

Hal yang membuatku bersemangat menjalani hidup ini adalah musik dan kau. Berkat kau, aku bisa menjadi sesemangat ini. Berkat kau, aku bisa sedewasa ini menerima segala kekurangan dalam diri ~Akanishi Hana~

Mengingat ini adalah sebuah novel bersetting Jepang, saya pikir cerita ini akan seperti dua novel sebelumnya yang saya baca—Under the Same Sky that Day dan Yosh!. Karena jujur saja, dalam cerita ini saya merasa nyawa kejepangannya itu kurang—sorry to say. Saya tahu, kalau novel yang menggunakan setting negara lain tidak harus memiliki catatan kaki yang banyak sampai bikin editor jadi muntah. Tapi, setidaknya meski tanpa hal itu, penulis juga bisa mengeksplorasi budaya dan tradisi lewat narasi dengan detail. Tapi, bukan berarti ceritanya jadi kayak baca berita di mbah google, lho. Menurut saya, jika cerita dalam novel ini dipindah setting menjadi Indonesia pun rasanya juga tidak akan jauh berbeda. Karena sekali lagi—masih menurut saya—novel ini masih sangat menonjolkan konflik cerita para tokohnya saja, tanpa harus ribet untuk mengeksplor budaya Jepang lebih dalam lagi. 

Di samping itu masih ada typo di beberapa Eyd dan kosakata. Tapi pastinya hal itu memang tidak akan pernah lepas dari penulisan apapun. Oh ya, sebenarnya masih ada beberapa hal lagi yang ingin saya kupas. Mengingat di sini kapasitas saya bukan sebagai kritikus, jadi cukup sekian saja corat-coret nggak penting dari saya. Biar bagaimanapun, ini adalah penilaian objektif dari saya sebagai pembaca. Sama sekali tidak ada niat untuk menjatuhkan penulis atau siapa pun. Saya juga masih belajar, khususnya budaya Jepang itu sendiri. Well, salam kenal dan semangat juga buat penulisnya. Jangan sakit hati jika kebetulan membaca review ini, ya :D







{ 2 komentar... read them below or Comment }

  1. Halo~
    Nggak nyangka banget kalau masih menemukan review setelah 2 tahun novel ini terbit.
    Aku suka membaca review-review dari novel-novel apalagi ada review untuk novelku sendiri. Seneng banget. Sungguh! Karena novel ini kan debutku jadi pasti sangat banyak kekurangannya.
    Makasih banyak ya. Bisa aku jadian acuan untuk karyaku ke depan.
    Salam kenal... :D

    BalasHapus
  2. Waah, ada penulisnya! Salam kenal, Kak Hana :D ini edisi telat baca. Jadi, ya, gini hihi. Maafkan untuk coretan yang gaje ini, ya :D

    BalasHapus

- Copyright © 2025 BLOG SUKA-SUKA - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -