Posted by : Unknown
Selasa, 02 Juni 2015
Judul : Remedy
Penulis : Biondy Alfian
Penerbit : Ice Cube Publisher
Tahun terbit : februari 2015
Halaman : 209 halaman
ISBN : 978-979-91-0818-0
“Lo yang nemuin
dompet gue, kan?” tanya Navin.
“Ya,” jawabku.
“Berarti lo
sudah lihat semua isinya?”
“Ya,” jawabku
lagi.
“Berarti lo
sudah—“
“Melihat kedua
KTP-mu?” tanyaku. “Sudah.”
Navin menarik
napas panjang. Kedua matanya melotot padaku. Rahangnya tampak mengeras.
Ada yang aneh
dalam diri Navin, si anak baru itu. Tania tidak sengaja menemukan dompet Navin
di tangga sekolah dan melihat di dalamnya ada KTP dengan data-data yang sama,
hanya berbeda nama. Satunya tertera nama Navin Naftali, satunya lagi tertera
nama Budi Sanjaya. Selain itu, ternyata Navin sudah berumur 20 tahun. Apa yang
dilakukan seorang pria berusia 20 tahun di SMA? Sebagai seorang murid pula.
Tania memutuskan untuk mencari tahu kebenaran tentang identitas ganda Navin.
Sementara itu, Navin juga penasaran dengan sosok Tania yang kini mengetahui
rahasianya. Karena sepertinya gadis penyendiri itu punya rahasia yang lebih
besar darinya.
***
Tania, seorang gadis SMA yang
lebih suka menghabiskan waktu sendirian tanpa ditemani seorang pun. Ia lebih
suka menyendiri tanpa harus berinteraksi dengan teman-teman sekolahnya. Bahkan,
sepulang sekolah gadis itu juga tak langsung pulang ke rumahnya. Ia lebih
sering pergi ke mall sekadar menghabiskan waktunya untuk berada di luar rumah.
Tak tanggung-tanggung, Tania menghabiskan waktunya bahkan hingga larut
malam. Hal itu dilakukannya karena ia
merasa kurang aman dan nyaman berada di rumahnya sendiri. Ia takut kalau hal
yang sama akan terulang kembali jika harus berdiam diri di rumah.
Namun, kebiasaan Tania yang suka
menyendiri akhirnya berubah setelah
kehadiran Navin. Dia adalah murid baru pindahan, yang tanpa sengaja dompetnya
ditemukan oleh Tania. Dari situlah kemudian cerita berawal. Navin yang
diketahui Tania memiliki 2 KTP dengan dua nama berbeda, ternyata adalah seorang
pria berumur 20 tahun. Setelah kejadian itu , Navin merasa rahasianya terancam
akan terbongkar. Akhirnya Navin berusaha mencari tahu sosok Tania sebenarnya.
Dan, lama kelamaan mereka berdua menjadi dekat.
Di samping itu, Tania juga
memiliki kebiasaan aneh yang sering dilakukannya. Gadis itu selalu menyayat
tubuhnya sendiri dengan pisau tajam yang kini selalu ia simpan di laci kecil meja
kamarnya. Kebiasaan itu sering dilakukannya setelah Mama meninggal karena
kanker. Setiap kali ia melakukan hal itu, Tania merasa pikirannya menjadi lebih
tenang.
-
“Aku merasa lebih baik
setelah melakukan sesi “ritualku”. (Remedy hal 40)
-
“Masalahnya, apa yang
kulakukan ini mungkin mirip dengan memakai narkoba. Membuat ketagihan dan sulit
untuk berhenti. Badanku menagih kalau aku tidak melakukannya selama beberapa
saat, dan aku tidak bisa mengendalikannya.” (Remedy hal 41)
Kebiasaan itu semakin menjadi ketika dihadapkan dengan
papanya. Perlakuan Papa
terhadap
Tania-lah yang kemudian membuat gadis itu sering berlaku demikian. Ya,
setidaknya ia bisa sejenak melupakan tentang sikap Papa yang tidak seharusnya
dilakukan.
***
Over all, saya suka dengan novel ini. Novel pertama dari Biondy Alfian
sebagai salah satu naskah juara lomba yang diadakan oleh penerbit Ice Cube. Sebagai
seorang pemula, meskipun ini novel perdana, saya sangat salut dengan penulis
yang berhasil melahirkan ide tidak biasa seperti ini. Menurut saya, ini semacam novel psikologi yang
menghadirkan tokoh Tania sebagai seorang self-harm.
Seseorang yang sering melakukan self-harm—tindakan
melukai diri sendiri—karena memiliki masalah berat yang tidak ingin diceritakan
kepada orang lain. Justeru dengan melukai dirinya, penderita merasa dirinya
lebih baik.
-
“... yang temanmu lakukan
bertujuan untuk melepaskan perasaannya dalam bentuk fisik. Biasanya orang yang
melakukan self-harm justeru tidak
ingin mati.” (Remedy hal 171)
-
“Seperti itulah. Saya rasa
dia melakukannya untuk meredakan rasa stres dan trauma yang dia alami ...”
(Remedy hal 172)
Banyak sekali berbagai bentuk self-harm yang biasa dilakukan oleh penderita. Dan, salah satunya
yang ingin dituangkan oleh penulis di sini adalah dengan menjadi seorang
pengiris seperti yang dilakukan oleh Tania. Apalagi background tokoh Tania yang
menurut saya cukup sering terjadi di sekitar kita. Hal besar yang cukup ironi
terjadi di dunia nyata. Permasalahan yang kemudian membuat penderita berusaha
menjauh dari kehidupan sekitarnya. Tidak menutup kemungkinan kalau hal-hal
semacam itu yang nantinya malah membuat penderita mengidap suatu gangguan
psikis yang membuat diri tertekan. Perasaan tidak aman dan nyaman ketika berada
di lingkungan orang lain yang dekat maupun tidak dengan kita.
Kekurangan novel ini, menurut saya, ada pada akhir cerita
yang sepertinya terlalu cepat. Setelah apa yang menimpa Tania, seolah semuanya
selesai begitu saja. Meski ada epilog yang menjelaskan kejadian setelahnya,
tapi tetap saja—sekali lagi menurut saya—akhir cerita berjalan terlalu cepat.
Seperti sengaja ingin mengakhiri pertarungan yang belum ingin diselesaikan
hehe.