Posted by : Unknown
Senin, 01 Juni 2015
Judul :
Semestinya Cinta
Penulis :
Irfan Journey
Penerbit :
Qultum Media
Halaman :
184 halaman
Tahun terbit :
Cetakan I, Agustus 2014
Cetakan II, November 2014
ISBN :
978-979-017-291-3
Blurb:
Ramadhan tahun itu memberi warna
baru dalam hidup Liem dan Dalia. Tak ada yang menyangka jika pertemuan keduanya
di bulan suci itu menciptakan ruang di hati mereka; sebuah tempat di mana
harapan dan kekecewaan terus menggemakan tawa dan tangisan.
Dalia tak
mampu berpaling ketika sebuah suara mengetuk-ngetuk pintu hatinya. Liem pun tak
sanggup menolak masuk saat pintu di depannya itu terbuka. Tapi, mereka tahu,
ada yang harus mereka yakinkan sebelum keduanya saling berkata cinta.
Cinta
mungkin tak harus memiliki. Tapi, hanya orang-orang kalah yang tak pernah
bermimpi menggenggam hati kekasihnya. Ketika satu demi satu kekecewaan
menguasai hati Liem dan Dalia, mereka pun mulai belajar tentang bagaimana
memiliki dengan cara yang tak biasa.
***
Liem merupakan
seorang pemuda berdarah Tionghoa yang memutuskan untuk merantau ke salah satu
daerah di Batam. Pemuda non muslim yang tanpa sengaja kemudian bertemu dengan
La Isa—lelaki paruh baya yang sudah ditolong dan menolongnya. Selama tinggal di
Batam, Liem sangat dekat dengan keluarga La Isa, yang akhirnya membawa jalan
takdirnya untuk bertemu dengan Dalia—keponakan La Isa.
Dari
sinilah cerita berawal, Liem dan Dalia sama-sama memiliki ketertarikan satu
sama lain. Awal pertemuan mereka terjadi ketika Dalia dan keluarganya
memutuskan untuk menginap sementara di rumah La Isa yang merupakan adik dari
ayah Dalia. Namun, hubungan mereka tak berjalan mulus. Karena bisikan dari para
tetangga, La Husa—ayah Dalia—masih ragu untuk merestui hubungan keduanya. Hal
itu terjadi karena Liem yang merupakan seorang keturunan Tionghoa, sedangkan di
kampung Nongsa—tempat tinggal Dalia—tidak pernah sekali pun ada orang yang
menikah dengan suku yang berbeda. Apalagi Liem yang sebenarnya juga sudah
memutuskan untuk menjadi muallaf, sangat diragukan bisa menjadi imam dalam
keluarga nanti. Mereka berpikir kalau ilmu agama Liem tidak cukup bisa untuk
membimbing Dalia nantinya.
***
Ini adalah novel genre religi ke
tiga yang berhasil diterbitkan oleh penulis. Setelah sebelumnya ada novel Terima
kasih Ayah dan Terima Kasih Ibu yang sudah terbit lebih dulu. Ketika awal
membaca judulnya, mungkin pembaca tidak akan mengira kalau ini adalah novel
bergenre religi. Karena seperti yang kita tahu, biasanya novel-novel genre
religi mengambil judul seputar agama itu sendiri. Semisal; ayat-ayat cinta,
ketika cinta bertasbih, syahadah cinta, dan masih banyak lagi. Tapi, tidak
dengan novel ini, yang mengambil judul berbeda dari lainnya. Menurut pengakuan
penulis, yang sebelumnya pernah mengadakan bedah buku di salah satu kelas
menulis online yang saya ikuti. Penulis maupun editor sengaja mengambil judul
tersebut agar bisa lebih menjangkau seluruh pembaca tanpa terkecuali.
Setting Nongsa yang dipakai sangat
detail menurut saya. Suasana dan kebiasaan yang selalu dilakukan oleh
orang-orang pinggiran seperti nelayan di sana juga cukup baik digambarkan oleh
penulis. Di sini penulis juga menggunakan alur maju mundur. Tapi, hal itu
tidaklah menjadi kendala dalam pembacaan novel ini.
Sebenarnya, meski novel ini bergenre
religi, bukanlah suatu bacaan yang berat. Tapi, entah kenapa saya kurang bisa
larut ketika membacanya. Biasanya jika novel tersebut benar-benar memikat hati,
saya bisa membacanya hanya dalam sehari, itu pun di sela-sela kesibukan saya.
Namun, dalam kasus novel ini, saya tidak bisa melakukan hal demikian. Setiap
kali saya membaca, rasa malas itu selalu menyergap datang. Selalu saja ada
keinginan untuk menaruh novel ini. Berhubung novel ini sudah nangkring lama di
rak buku saya, apapaun alasannya saya harus bisa menyelesaikan untuk
membacanya.
Alhamdulillah, setelah beberapa
minggu, saya mampu menyelesaikan membaca novel ini. Menurut saya, ada beberapa
hal yang—mungkin—membuat saya kurang antusias membaca novel ini:
-
Gaya bertutur yang menurut
saya kurang pas digunakan untuk novel religi. Saya tidak akan membandingkan
novel ini dengan novel religi yang sudah beredar. Karena bagaimanapun, setiap
penulis itu mempunyai ciri khas yang berbeda-beda, tak terkecuali dengan yang
satu ini.
-
Penggunaan kata “kekasih”
untuk hubungan Liem dan Dalia juga kurang enak dibaca. Apalagi dalam novel ini,
hubungan mereka sebenarnya juga belum terlalu jelas. Hanya sebatas suka dan
memiliki ketertarikan satu sama lain. Mungkin, lebih pas kalau menggunakan
kalimat “gadis yang disukai” saja.
-
Saya belum cukup paham
mengenai Eyd. Jadi, sebenarnya banyak yang membuat saya bertanya-tanya ketika
membaca novel ini; ungkapan dalam hati itu sebenarnya boleh dibuat seperti
dialog atau bagaimana? Karena jujur saja, saya sempat bingung ketika
membacanya. Banyak sekali ungkapan hati tokoh yang ditulis dalam bentuk dialog.
Meski ada dialog tagging dan kalimat penjelas setelahnya, namun tetap saja saya
sedikit terganggu dengan yang satu itu. Juga, dialog panjang yang bisa mencapai
hampir satu halaman. Di sini, dialog tersebut dipisah menjadi satu atau dua
buah paragraf. Namun, yang sempat saya bingungkan, ketika pemisahan dialog
tersebut tidak digunakan tanda (“). Jadi, saya jadi sibuk menerka-nerka
sendiri. Ini sebenarnya gimana?
Sepertinya cukup segitu ulasan dari saya. Biar
bagaimanapun, ini hanya ungkapan pribadi saya sebagai pembaca yang masih awam.
Tidak berniat menjatuhkan siapa pun dan apapun. Karena saya sendiri pun juga
masih perlu banyak belajar dalam hal ini.