Posted by : Unknown Selasa, 18 Agustus 2015



Judul                    : Everybody’s Man
Penulis                 : Arie Fajar Rofian
Penerbit               : Elex Media Komputindo
Isbn                     : 978-602-02-6361-8
Halaman               : 204 hal
Tahun terbit          : April 2015

Blurb:

R-I-A-N
Empat huruf, satu raga.
Enam cerita, satu jiwa.
Perempuan punya cara masing-masing dalam bercerita tentang cinta.
Manis, getir, harap, juga bencana.
Mana yang benar-benar Rian  cinta?

***
Yeah! Akhirnya selesai juga baca novel ini, setelah berapa bulan, ya—saya agak lupa—novel ini tergeletak tak berdaya di kamar saya. Bukannya apa-apa, waktu dan kesibukan yang kemudian mengacuhkan pandangan saya terhadap novel ini.

Oke, tak perlu berbasa-basi lama-lama. Awalnya saya mengira ini adalah novel yang bakalan rumit kalau dibaca. Mengingat penulis mengambil enam sudut pandang aku sebagai pencerita. Dan, kerennya lagi, enam sudut pandang tersebut diceritakan oleh wanita semua. Di sini, keenam sudut pandang tersebut menjadikan seorang Rian—cowok yang semula dianggap playboy—sebagai tujuan objek bercerita mereka. Ada Irma, Ayu, Valentina, Mili, Leni, dan Rini. Masing-masing dari mereka mempunyai porsi yang berbeda dalam menceritakan sosok Rian. Dan, di sini, saya memang lebih suka Irma, yang sejak awal sudah menunjukkan porsinya.

Rian, seorang lelaki di tahun 2000-an yang digambarkan tampak seperti artis korea dengan rambut sedikit panjang. Namun, sayangnya, gambaran saya seakan hancur ketika tahu kalau Rian itu adalah seorang perokok yang bisa dibilang cukup—bahkan sangat—aktif. Secara saya tidak begitu suka dengan cowok perokok hahah *abaikan!

Di samping itu, karakter Rian di sini juga digambarkan cukup baik. Dari setiap adegan yang disajikan, sampai kemudian harus flash back ke belakang, sosok Rian tetap sama, tidak ada yang berubah. Perlakuannya terhadap wanita dipukul sama rata. Seakan dia tidak peduli apakah wanita itu sudah mempunyai pasangan atau tidak. Dan ... inilah yang saya juga kurang suka dengan karakternya. Meski sebenarnya Rian bukan playboy, tapi perlakuannya terhadap wanita saya pikir terlalu ... ah! Saya rasa dia terlalu sering mengumbar perhatian terhadap lawan jenis -_-

Abaikan soal Rian! Kali ini saya juga akan berkomentar soal kata-kata penulis yang begitu puitis. Barangkali, ini memang sudah menjadi cirinya. Atau mungkin, penulis sengaja menyisipkan kalimat-kalimat puitis dalam novel ini? Entahlah, karena saya sendiri baru tahu tulisannya dari novel ini :D
          
      - Kau masih seperti dulu. Sama saat pertama kali kita bertemu. Senyum di wajahmu dan lesung di pipimu selalu saja membuatku merasa teduh. Matamu mencari mataku, lalu kedua bola mata kita beradu dalam satu waktu. Caramu memandangku membuat degup jantung laksana gemuruh. Di hadapanmu kini aku menguncup seperti putri malu yang baru saja disentuh. (hal  40)

Apa kalian tahu, ketika saya membaca bagian itu, saya jadi teringat dengan kata-kata puitis antara Putri Hureem dan Baginda di film Abad Kejayaan. Kalimat itu, kata-katanya hampir mirip dengan yang ada di film AK. Jika kalimat puitis di atas diucapkan oleh Putri Hureem, rasanya pas banget. Serius, deh! Yang suka nonton film itu pasti bakalan setuju hahah. Seolah-olah kalimat itu terus berdengung di telinga saya *halah!

Seperti kata Bunda Zahra dalam reviewnya beberapa waktu lalu. Novel ini memang menghadirkan beberapa twist yang akan membuat kita ber-oh-oh ria. Karena setiap yang terjadi akan tidak sama dengan perkiraan kita. Biasanya, kita akan mudah menebak beberapa adegan selanjutnya. Namun, di sini semuanya seakan berbelok. Seperti ending yang ada dalam novel ini, saya sama sekali tidak kepikiran kalau ternyata ‘dia’ akan melakukan hal itu. Ibarat dalam sebuah sinetron, adegan yang semula protagonis, diam-diam dia menjadi antagonis karena suatu sebab.

Well, apakah saya perlu menceritakan semuanya di sini? Saya rasa tidak! Saya sarankan buat kalian untuk segera pergi ke toko buku untuk menjemput novel ini. Oya, ada sedikit catatan untuk penulis. Sepertinya saya agak terganggu dengan banyaknya penggunaan emdash di sini. Ada beberapa yang tidak tepat dalam penggunaannya--menurut saya.

Sekian kata-kata nggak penting dari saya. Semoga penulis bisa terus menghasilkan karya yang tidak biasa seperti ini. Wassalam ....

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2025 BLOG SUKA-SUKA - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -