Tampilkan postingan dengan label diva press. Tampilkan semua postingan

Judul : Under the Same Sky that Day
Penulis : Mimosa Hana
Penerbit : De Teens
Tahun Terbit : 2013
Halaman : 196 hal
Isbn : 978-602-279-002-0

Novel ini berkisah tentang seorang cowok bernama Chikusa yang mengalami mati suri karena operasi tumor otak yang dijalaninya. Cowok yang kemudian dipertemukan dengan Shiro, sosok bertudung putih yang berasal dari dimensi lain ini bahkan awalnya menganggap kalau dirinya telah mati. Namun, sosok Shiro—yang mengaku diutus untuk mengawal Chikusa selama berada di dimensi lain—meyakinkan Chikusa kalau sebenarnya cowok itu berada di dimensi lain karena keinginan dan keyakinannya sendiri.

Setelah pertemuan Chikusa dengan Shiro, sosok bertudung putih tersebut lalu memutarkan beberapa rekaman kehidupan yang pernah dialami Chikusa sebelum ia menjalani operasi. Satu per satu rekaman diputar, sampai akhirnya Chikusa menyadari satu hal tentang cintanya pada adik tirinya yang bernama Tateha.

Rekaman pertama yang diputar oleh Shiro memperlihatkan kejadian saat Chikusa menjalani operasi. Setelahnya, tampak kejadian masa kecil Chikusa saat ia baru pindah di sekolah barunya. Selain itu, tampak juga kalau awalnya Chikusa begitu membenci adik tirinya itu. Ia sama sekali tidak menginginkan mempunyai adik dari ibu lain yang kini menjadi ibunya. Sampai kemudian Chikusa melihat sebuah rekaman yang membuat ia sedikit bingung akan hubungannya dengan Tateha. Ditambah lagi munculnya sebuah gambar yang menunjukkan kalau Tateha ternyata sedang menjalin kedekatan dengan Hikaru-senpai—salah satu seniornya di Universitas.
@@@

Done! Selesai juga baca novel ini. Kalian tahu, sebenarnya saya nggak ada niatan untuk membeli novel ini. Tapi, saat jalan-jalan ke mall, tanpa sengaja saya melihat ada bazar buku di Gramedia. Iseng-iseng aja deh saya buat lihat-lihat buku murah. Sampai kemudian tanpa sengaja juga saya melihat novel ini. Yah, selain karena ini novel genre Jepang, harganya pun juga pas di kantong hehe. Jadilah saya beli novel karangan Mimosa Hana ini dan satu novel teenlit lainnya.Oh ya, ini juga merupakan Naskah Terbaik #LombaNovelJepang 2013 yang beberapa novel lainnya juga sudah saya ulas sebelumnya. 

Pas awal baca ceritanya, jujur saja saya udah langsung suka dan penasaran sama kelanjutan dan jalan ceritanya. Gaya bahasanya yang lancar, dan plot cerita yang rapi bakalan bikin kalian nggak rela untuk meletakkan novel ini sebelum akhir. Selain itu, meski di sini penulis menggunakan alur flash back di setiap bab-nya, itu sama sekali nggak akan membuat pembaca jadi bingung. Karena menurut saya penulis cukup berhasil menyelipkan setiap clue di tiap akhir bab-nya.

Di samping itu, membaca novel ini benar-benar terasa sekali Jepangnya. Di sini, kita bisa belajar lebih banyak lagi tentang istilah-istilah dan kebudayaan Jepang yang sebelumnya mungkin belum kita ketahui. Yaah, seperti saya ini. Membaca novel ini saya jadi lebih tahu tentang perbedaan partikel “san” dan “han” dalam penggunaannya. Selain itu, beberapa nama jalan dan juga beberapa pertokoan yang ada pun juga disebutkan dengan detail sekali. Intinya, novel ini cukuplah dijadikan acuan buat kalian yang masih awam tentang Jepang—tentunya juga diselingi dengan browsing agar informasi yang didapatkan juga lebih akurat.

Oh ya, tapi ada bagian cerita yang sepertinya membuat saya masih bingung. Tentang Tateha yang kemudian menjalin hubungan dengan Hikaru-senpai. Sumpah! Yang ini saya masih gagal paham *dasar otak lemot :3 di dalam video yang diputar Shiro, Chikusa seakan baru menyadari kalau ternyata dia dan Tateha telah berpacaran—saya pun di sini juga jadi terkejut. Namun, ketika dia sadar, ternyata Tateha telah menjalin hubungan dengan Hikaru. Huuaaaa ... barangkali ini efek gagal fokus yang sering menyerang diri saya hahah. Pokoknya ada beberapa adegan yang nggak disebutkan di sini sebab akibatnya, yang kemudian membuat saya harus rela membolak-balik kembali halaman untuk mencari tahu jawabannya hikzz.

But, over all, cerita ini sudah sangat bagus menurut saya sebagai pembaca. Saya suka. Mengingat ini adalah debut pertama penulis di dunia literasi. Cukup mengagumkan dan keren karena berhasil memenangkan lomba ini.

Review Novel “Undre the Same Sky that Day” by Mimosa Hana

Judul : Haru no Hana
Penulis : Cuncun
Penerbit : Ping!!!
Cetakan : November, 2013
Hal : 156 hal
Isbn : 978-602-255-171-3

Baiklah, ini adalah novel ke dua naskah terbaik #LombaNovelJepang 2013 yang saya baca. Setelah sebelumnya saya membaca naskah terbaik lainnya; “Yosh!” karangan Far Choinice. Tentunya, setelah membandingkan novel ini dengan Naskah Terbaik Jepang lainnya, pasti akan ada banyak sekali kekurangan dan kelebihan dalam masing-masing novelnya.

Novel ini berkisah tentang seorang Hana, gadis tuna wicara yang sangat berbakat dalam bermain musik—khusunya biola. Namun, dalam hal ini, bukan permainan musiknya yang ditonjolkan oleh penulis. Melainkan hubungan peliknya dengan seorang pemuda bernama Haruka Ichijou yang sangat membencinya karena sebuah keirian. Hal itu bukan tanpa sebab. Haruka sangat membenci Hana sejak gadis itu pertama kali masuk ke Universitas tempat dia belajar. Ayah Haruka begitu mengagumi bakat luar biasa Hana dalam bermusik. Karena itu pula ayahnya begitu dekat dan sangat menyayangi Hana seperti putrinya sendiri. Dan, karena semua itu Haruka merasa kalau ayahnya selalu membanding-bandingkan dirinya dengan Hana. Sampai-sampai sang ayah lebih memilih Hana untuk tampil dalam acara festival tahunan daripada dirinya. Ayahnya menganggap kalau Haruka tidak akan bisa tampil di hadapan orang banyak. Dia juga sama sekali tidak mendukung permainan musik Haruka.

Masalah semakin berlanjut ketika Hana meminta Ichijou-sensei—ayah Haruka—untuk memperbolehkan dirinya berduet dengan Haruka, namun ditolaknya. Tapi, Hana tidak menyerah sampai di situ. Gadis itu tetap mengusahakan berbagai cara agar mereka berdua bisa tampil duet untuk festival. Selain itu, rencana kepergian Hana ke Amerika Serikat untuk bersekolah musik di Juliard yang tak terduga juga membuat hubungan mereka jadi tak tentu arah.

Sebelum kepergiannya ke Amerika, Hana berusaha menyatakan perasaannya pada Haruka. Dia juga bercerita tentang pengalaman masa lalu mereka yang mungkin sudah dilupakan oleh Haruka. Dari situlah kemudian hati Haruka sedikit tergerak. Dia tidak menyangka kalau gadis yang pernah ditolongnya saat di Shinkansen adalah Hana.

Ups!! Kayaknya nggak baik, ya, kalau diceritakan terlalu detail. Meskipun saya telat pakai banget baca neh novel, tapi setidaknya saya masih ada waktu untuk membacanya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan? Heheh
@@@

Menjadi bayang-bayang dari orang lain, hidup dibanding-bandingkan, dan keberadaan nyata keindividuanku tak pernah dianggap ada. Membuat hati dan pikiranku sakit ~Ichijou Haruka~

Setelah membaca blurb di atas, apa yang ada di benak kalian? Kira-kira ending seperti apa yang akan diberikan dalam novel ini? Well, dari awal baca, saya sudah bisa menebak akan ke arah mana hubungan mereka. Sebenci-bencinya tokoh dalam sebuah novel, pasti ujung-ujungnya akan kembali juga sama yang dibencinya :p di sini, penulis mengeksplor dengan baik perasaan masing-maisng tokohnya. Quote-quote diary's yang ditulis pun juga sangat apik dan ngena banget. Intinya saya suka. Kalau saya, neh, mungkin agak sedikit kesulitan jika harus memilih tokoh saya sebagai tuna wicara. Secara saya sama sekali tidak tahu soal kehidupan mereka itu bagaimana. Sekali pun kita bisa riset dan meminta bantuan mbah google. Tapi, saya masih bertanya-tanya, kenapa penulis memilih tokohnya sebagai seorang tuna wicara? Apakah jika Hana gadis yang normal, cerita akan berbeda seperti yang sudah ada? Hmm, entahlah ....

Hal yang membuatku bersemangat menjalani hidup ini adalah musik dan kau. Berkat kau, aku bisa menjadi sesemangat ini. Berkat kau, aku bisa sedewasa ini menerima segala kekurangan dalam diri ~Akanishi Hana~

Mengingat ini adalah sebuah novel bersetting Jepang, saya pikir cerita ini akan seperti dua novel sebelumnya yang saya baca—Under the Same Sky that Day dan Yosh!. Karena jujur saja, dalam cerita ini saya merasa nyawa kejepangannya itu kurang—sorry to say. Saya tahu, kalau novel yang menggunakan setting negara lain tidak harus memiliki catatan kaki yang banyak sampai bikin editor jadi muntah. Tapi, setidaknya meski tanpa hal itu, penulis juga bisa mengeksplorasi budaya dan tradisi lewat narasi dengan detail. Tapi, bukan berarti ceritanya jadi kayak baca berita di mbah google, lho. Menurut saya, jika cerita dalam novel ini dipindah setting menjadi Indonesia pun rasanya juga tidak akan jauh berbeda. Karena sekali lagi—masih menurut saya—novel ini masih sangat menonjolkan konflik cerita para tokohnya saja, tanpa harus ribet untuk mengeksplor budaya Jepang lebih dalam lagi. 

Di samping itu masih ada typo di beberapa Eyd dan kosakata. Tapi pastinya hal itu memang tidak akan pernah lepas dari penulisan apapun. Oh ya, sebenarnya masih ada beberapa hal lagi yang ingin saya kupas. Mengingat di sini kapasitas saya bukan sebagai kritikus, jadi cukup sekian saja corat-coret nggak penting dari saya. Biar bagaimanapun, ini adalah penilaian objektif dari saya sebagai pembaca. Sama sekali tidak ada niat untuk menjatuhkan penulis atau siapa pun. Saya juga masih belajar, khususnya budaya Jepang itu sendiri. Well, salam kenal dan semangat juga buat penulisnya. Jangan sakit hati jika kebetulan membaca review ini, ya :D







Review Novel “Haru No Hana” by Cuncun

Penulis : Far Choinice
Penerbit : Ping!!!
Tahun : 2013
Tebal : 172 hal
Isbn : 978-602-255-170-6

Hai, hai ... belakangan ini saya lagi pengin baca novel dengan latar belakang Jepang. Yah, setidaknya bisa buat saya belajar juga bagaimana membuat novel Jepang yang baik ^_^ secara saya lagi pengin memantapkan hati untuk fokus pada penulisan novel dengan genre Jepang. Niatnya biar saya juga punya ciri khas tersendiri sebagai penulis Jepang :D

Oh ya, kebetulan dapat novel ini dari bazar buku dalam acara book fair yang sering diadakan di kota saya—Malang. Emang udah niat sih dari awal kalau pengin beli novel Jepang. Dan, kebetulan juga kedua mata saya ini langsung menangkap sosok novel terbitan lini Diva Press. Akhirnya dapat lah saya dua novel lama hasil dari Naskah Terbaik #LombaNovelJepang 2013.

 Novel ini berkisah tentang dua remaja sekolah dari dua keluarga berbeda yang dibesarkan di rumah yang sama. Honoka Fujiwara, gadis yang diasuh oleh keluarga Fujiwara setelah sang nenek meninggal. Ia diasuh oleh sahabat kedua orangtuanya yang juga sudah meninggal. Di sana, Honoka mempunyai saudara tiri laki-laki bernama Fujiwara Junichi. Pemuda itulah yang telah berjanji akan menjaga dan menyayangi Honoka semenjak gadis itu menginjakkan kaki di rumahnya. Namun, yang Junichi rasakan bukanlah rasa sayang pada seorang adik, melainkan sebagai seorang laki-laki pada gadis yang dicintainya.

Konflik semakin berjalan ketika mereka berdua harus pindah rumah sekaligus sekolah di kota lain. Di sekolah barunya itulah kehidupan mereka mulai berubah. Honoka yang semenjak tinggal bersama keluarga Fujiwara menjadi sosok lebih pendiam dan menyendiri, akhirnya lama-lama bisa membiasakan diri dengan situasi yang ada. Apalagi semenjak kehadiran dua orang laki-laki yang sempat mengacaukan pikirannya tentang perasaannya sendiri—Nakamura Jin dan Sugiura Shato.

@@@

Menurut saya novel ini sangat ringan untuk bacaan remaja yang biasa menonton dorama Jepang. Di sini penulis juga selalu menyuguhkan kejutan kecil di setiap akhir pergantian plotnya. Selain itu pengemasan konflik di antara Honoka dan Junichi juga cukup ringan, jadi tidak akan membuat pembaca mengerutkan dahi. Namanya juga novel Jepang, sudah pasti kita akan menemukan kata asing di dalamnya. Layaknya ucapan selamat pagi, pengenalan diri dll semuanya penulis tuangkan di sini.

Tapi, ada beberapa hal juga yang membuat novel ini kurang—menurut saya. Perasaan Honoka terhadap Nakamura Jin kesannya kayak php banget, ya hehe. Dari awal Honoka masuk sekolah, seakan-akan gadis itu udah tertarik banget sama Jin. Yah ... meski awalnya Honoka tampak tidak suka dengan sikap Jin yang kasar, tapi tetap saja, di mana-mana kayaknya benci selalu jadi cinta, kan? Dan, saya pikir di sini Honoka akan jadian dengan Jin, lho. Ternyata, oh ternyata, saya salah kaprah. Selain itu, kematian Sugiura Shato sepertinya terlalu mendadak banget hikz... hikz... meskipun yang terjadi padanya adalah kecelakaan. Lalu, apakah sebenarnya Honoka itu memiliki perasaan pada Sugiura Shato? Karena kalau dipikir-pikir, Honoka lumayan perhatian sama Shato. Ditambah lagi Shato mengalami kecelakaan setelah mengungkapkan perasaannya pada Honoka.
Hajimete atta toki kara kimi ga suki da, Honoka”--Sugiura Shato
[Aku menyukaimu sejak pertama kali bertemu] hal 100

  Nah, kalimat itu cukup membuat saya penasaran juga. Kira-kira apa yang menyebabkan Shato menyukai Honoka? Apakah sebelum pindah sekolah, Shato sudah pernah mengenal Honoka? Ah, yang ini rasanya tidak, ya. Tapi, sikap Shato di awal ketika pertama bertemu Honoka sama sekali tidak mengindikasikan kalau pemuda itu menyukainya. Atau mungkin Shato hanya ingin menutupi perasaannya saja, mengingat Shato juga termasuk lelaki pendiam dan penyendiri—meski tampan.

Ya sudah, cukup sekian saja cuap-cuap nggak penting dari saya. Sekali lagi, bagaimanapun ini adalah penilaian objektif dari saya sebagai pembaca. Buat penulis, terus semangat, ya! Meski ada beberapa cerita di atas yang buat saya bertanya-tanya, tapi saya tetap menikmati membaca novel ini sampai akhir, kok ^_^ ganbatte!


Review Novel “Yosh!” by Far Choinice

- Copyright © BLOG SUKA-SUKA - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -