Ini adalah penampakan koran yang memuat resensi saya untuk novel "Sejujurnya Aku" karya Aveus Har
Judul Buku : Sejujurnya Aku
Penulis : Aveus Har
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2015
Tebal : 214 halaman
ISBN : 978-602-291-081-7
Berikut adalah versi asli resensi saya sebelum diedit oleh pihak Redaktur:
KETIKA SEBUAH
KEPERAWANAN DIPERTANYAKAN (?)
Judul Buku : Sejujurnya Aku
Penulis : Aveus Har
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2015
Tebal : 214 halaman
ISBN : 978-602-291-081-7
Sejatinya,
dalam sebuah pernikahan, kejujuran dan saling kepercayaan adalah hal yang
utama. Ketika kita memutuskan untuk mengakhiri masa lajang, dari sana juga kita
harus sudah mempersiapkan diri tentang semua hal yang berkaitan dengan
pernikahan. Kehidupan saat masa lajang, jelas akan berbeda ketika kita sudah
menikah nanti. Oleh karenanya, sebelum kita memutuskan untuk memulai kehidupan
rumah tangga yang penuh liku. Sudah sepantasnya kalau kita mulai saling terbuka
tentang segala hal yang kiranya mengganjal dalam diri masing-masing.
Salah
satu novel yang bercerita tentang lika-liku rumah tangga adalah Sejujurnya Aku.
Dalam novel ini dikisahkan tentang seorang wanita bernama Carista yang menikah
dengan seorang Manager Marketing bernama Nathan. Carista yang memiliki impian
mempunyai pernikahan bak kisah di negeri dongeng, tak lantas begitu saja
mendapatkannya.
“Impian
masa kecilku bukanlah menjadi seorang wanita karier dengan kehidupan glamour ala
sosialita, berbelanja barang mewah, dan pergi mengunjungi kota-kota eksotik di
penjuru dunia. Sejak mengenal dongeng pangeran putri, aku ingin menjadi seorang
istri dan seorang ibu, yang hidup bahagia selama-lamanya dengan anak-anak,
suami, binatang peliharaan, taman bunga, dan keceriaan.” (Hal 106)
Justeru
setelah menikah, ketakutan dan kecemasan yang selama ini mengukung dirinya,
perlahan terus menggerogoti. Seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Kesalahan besar yang telah ia lakukan di masa lalu, seakan tidak pernah bisa
hilang dari ingatannya. Apalagi, setiap kali ia akan melakukan malam pertama.
Bayangan masa lalu itu selalu muncul di pikirannya.
Ya,
sebuah hubungan yang tak semestinya dilakukan oleh pasangan yang belum menikah,
telah dilakukan oleh Carista di masa lalu. Masa di mana ia menganggap
pengorbanan dengan menyerahkan keperawanan adalah sebuah bentuk rasa sayang dan
cinta kepada pasangan. Hanya saja, Carista terlanjur menutupi semuanya dari
awal. Ia sama sekali tidak bercerita yang sebenarnya kepada Nathan—suaminya.
“Tidak
akan pernah ada kepastian dalam hidup. Semuanya adalah pertaruhan. Kita harus
mengambil kartu dan membuang kartu. Mengambil risiko dengan melakukan sesuatu.
Bahkan, pejudi andal pun sekali waktu akan terpeleset dengan perkiraannya.
Masalahnya, pejudi andal hanya kehilangan uangnya. Namun, seorang mempelai,
bagaimana menghadapi kehilangan impian pernikahan bahagianya?” (Hal 14)
Awalnya,
Carista berpikir kalau Nathan adalah lelaki yang tidak begitu memedulikan masalah
keperawanan. Tapi, ketakutan yang terus menyesaki pikirannya malah membuat
Carista berpikir kalau Nathan bukanlah lelaki yang seperti di pikirannya.
“Sekarang aku akan menikah
dengan orang yang kupikir tidak memedulikan kesucianku, nyatanya aku salah.”
(Hal 108)
Novel ini
begitu apik dalam menyajikan setiap bagian-bagian ceritanya. Perdebatan masalah
keperawanan yang dibahas di dalamnya pun juga sangat baik. Sama sekali tidak
terkesan menggurui, atau menyudutkan pihak lain. Penulis sangat piawai memaparkan
segala yang berhubungan dengan wanita.
Dimuat di Koran Sastra Sumbar Edisi 19 September 2015
Judul
: Summit
Penulis :
Peringga Ancala
Penerbit : Ice Cube
Publisher
Tahun terbit : Mei 2015
Halaman :193 halaman
ISBN : 978-979-91-0871-5
Blurb:
“Gue mau mendaki Rinjani. Seperti yang lo tahu, gue udah tertipu
habis-habisan. Jadi, gue butuh pemandu dan—“
“Mendaki? Kau tidak salah? Mendaki sampa puncak Mahabiru?”
“Degar, ya, gue ini punya misi penting. Lo nggak perlu tahu alasannya, yang
pasti gue harus mendaki Rinjani. Terserah lo mau bilang apa!”
Dan misimu itu lebih penting dari nyawamu?”
***
“Jangan bunuh apapun kecuali waktu, jangan ambil apapun
kecuali foto, dan jangan tinggalkan apapun kecuali jejak. Salam lestari!”
Kalian tahu,
itu adalah quote pertama yang diselipkan penulis sebelum masuk halaman pertama
cerita “Summit”. Dan ... quote-nya benar-benar pecinta alam sejati!--menurut saya *sok tahu
banget, ya hahah
Idan, mahasiswa dari kota yang tiba-tiba saja memutuskan untuk mendaki
Rinjani demi sebuah ego dan harga diri. Hal itu disebabkan karena Yona—mantan
pacarnya—lebih memilih meninggalkannya dan berpacaran dengan salah satu anggota
mapala. Idan juga ingin membuktikan kalau dia bisa mendaki lebih dari pacar
barunya itu—namanya Tian. Namun, tak disangka ternyata cowok itu terkena tipu
akibat trekking organizer bodong yang dipesannya. Beberapa saat dia
terkatung-katung di bandara. Sampai tanpa sengaja Idan bertemu dengan seorang
cewek di bandara yang membuatnya sedikit adu mulut, karena ia beranggapan kalau
cewek itu sudah mencampuri urusannya.
Cerita mulai seru ketika Idan yang telah sampai di sebuah penginapan, harus
bertemu kembali dengan cewek yang sempat bertengkar dengannya di bandara.
Namanya Lika. Dia seorang mahasiswa mapala yang kebetulan ayahnya pemilik dari
penginapan dan trekking organizer di Senaru. Dan, sudah bisa dipastikan,
petengkaran kecil kembali hadir di antara mereka.
Singkat cerita, akhirnya Lika menjadi pemandu bagi pendakian Idan ke
Rinjani. Bisa dibayangkan kan pendakian akan seperti apa jika dua orang yang
awalnya terlibat pertengkaran harus bersama? Yuk, ah! Langsung jemput aja novel
ini di tobuk.
***
Seperti biasa, saya mendapatkan novel ini berkat mengikuti kelas di salah
satu kelas online. Ini merupakan salah satu seri YARN yang belum saya baca. Sedikit banyak tahu tentang isinya dari hasil tanya
jawab dengan penulis di kelas saat itu. Saya pikir ini akan menjadi novel yang
membosankan karena isinya tentang pendakian dan segala tetek-bengek yang
berhubungan dengan lokalitas Lombok. Jujur saja, otak saya agak mampet kalau
harus disuruh membaca tulisan-tulisan yang berhubungan dengan adat dsb—yang ini
jangan ditiru, ya!—ternyata, oh, ternyata ... saya salah! Novel ini benar-benar
amazing! Sungguh, saya tidak sedang mengada-ada. Novel ini memang bukanlah
novel roman dengan segala kerumitan percintaan seperti pada umumnya. Di sini,
penulis lebih banyak menuangkan tulisannya berupa kegiatan mendaki gunung dan
segala tentang isinya. Mulai dari keeksotisan gunung Rinjani, danau Segara Anak, air terjun
Sendang Gila dan Tiu Klep, dan masih banyak lagi.
Meski begitu, membaca novel ini sama sekali tidak seperti membaca Mbah
Google hehe. Semua penjelasan tentang setiap tempat dan sejarahnya,
masing-masing dituliskan dengan gaya bercerita yang tidak kaku dan terkesan translate. Seluruhnya murni dan mengalir
seperti apa adanya. Sama sekali tidak memaksakan. Oya, ada satu kalimat yang
saya suka di sini:
“Aku belum siap untuk mencemburui gunung, hutan, tebing, jurang,
burung-burung, edelweiss, dedaunan, dan masih banyak lagi, bila aku jatuh cinta
pada seorang pecinta alam.” (Summit hal 147/148)
Membaca kalimat itu, rasanya ada sesuatu yang berderak-derak di hati
#eeaakkk #lol. Tapi, buat pembaca sama sekali jangan khawatir. Novel ini tidak
akan membuat kalian menguap-nguap, kok. Gaya bertuturnya benar-benar ngalir,
enak dibaca, dan ... di akhir-akhir menuju ending, ada beberapa kejadian yang
bikin kalian bakalan senyum-senyum kayak saya :D bisa dibilang ini adalah
sedikit bonus buat pembaca yang menginginkan sedikit sisi roman dalam novel ini
hihi ... penasaran? Buruan, deh, jangan ragu-ragu buat jemput neh novel.
Terakhir, buat Kak Peringga, terima kasih udah kasih novel ini buat saya.
Jadi makin penasaran dengan tulisan-tulisan Kakak yang lain. Btw, Tian pacar
barunya Yona itu si Agustian, bukan, sih?—skip.

