Penerbit : Ping!!!
Tahun : 2013
Tebal : 172 hal
Isbn : 978-602-255-170-6
Hai, hai ... belakangan ini saya lagi pengin baca novel dengan latar
belakang Jepang. Yah, setidaknya bisa buat saya belajar juga
bagaimana membuat novel Jepang yang baik ^_^ secara saya lagi pengin
memantapkan hati untuk fokus pada penulisan novel dengan genre
Jepang. Niatnya biar saya juga punya ciri khas tersendiri sebagai
penulis Jepang :D
Oh ya, kebetulan dapat novel ini dari bazar buku dalam acara book
fair yang sering diadakan di kota saya—Malang. Emang udah niat sih
dari awal kalau pengin beli novel Jepang. Dan, kebetulan juga kedua
mata saya ini langsung menangkap sosok novel terbitan lini Diva
Press. Akhirnya dapat lah saya dua novel lama hasil dari Naskah
Terbaik #LombaNovelJepang 2013.
Novel ini berkisah tentang dua remaja sekolah dari dua keluarga
berbeda yang dibesarkan di rumah yang sama. Honoka Fujiwara, gadis
yang diasuh oleh keluarga Fujiwara setelah sang nenek meninggal. Ia
diasuh oleh sahabat kedua orangtuanya yang juga sudah meninggal. Di
sana, Honoka mempunyai saudara tiri laki-laki bernama Fujiwara
Junichi. Pemuda itulah yang telah berjanji akan menjaga dan
menyayangi Honoka semenjak gadis itu menginjakkan kaki di rumahnya.
Namun, yang Junichi rasakan bukanlah rasa sayang pada seorang adik,
melainkan sebagai seorang laki-laki pada gadis yang dicintainya.
Konflik semakin berjalan ketika mereka berdua harus pindah rumah
sekaligus sekolah di kota lain. Di sekolah barunya itulah kehidupan
mereka mulai berubah. Honoka yang semenjak tinggal bersama keluarga
Fujiwara menjadi sosok lebih pendiam dan menyendiri, akhirnya
lama-lama bisa membiasakan diri dengan situasi yang ada. Apalagi
semenjak kehadiran dua orang laki-laki yang sempat mengacaukan
pikirannya tentang perasaannya sendiri—Nakamura Jin dan Sugiura
Shato.
@@@
Menurut saya novel ini sangat ringan untuk bacaan remaja yang biasa
menonton dorama Jepang. Di sini penulis juga selalu menyuguhkan
kejutan kecil di setiap akhir pergantian plotnya. Selain itu
pengemasan konflik di antara Honoka dan Junichi juga cukup ringan,
jadi tidak akan membuat pembaca mengerutkan dahi. Namanya juga novel
Jepang, sudah pasti kita akan menemukan kata asing di dalamnya.
Layaknya ucapan selamat pagi, pengenalan diri dll semuanya penulis
tuangkan di sini.
Tapi, ada beberapa hal juga yang membuat novel ini kurang—menurut
saya. Perasaan Honoka terhadap Nakamura Jin kesannya kayak php
banget, ya hehe. Dari awal Honoka masuk sekolah, seakan-akan gadis
itu udah tertarik banget sama Jin. Yah ... meski awalnya Honoka
tampak tidak suka dengan sikap Jin yang kasar, tapi tetap saja, di
mana-mana kayaknya benci selalu jadi cinta, kan? Dan, saya pikir di
sini Honoka akan jadian dengan Jin, lho. Ternyata, oh ternyata, saya
salah kaprah. Selain itu, kematian Sugiura Shato sepertinya terlalu
mendadak banget hikz... hikz... meskipun yang terjadi padanya adalah
kecelakaan. Lalu, apakah sebenarnya Honoka itu memiliki perasaan pada
Sugiura Shato? Karena kalau dipikir-pikir, Honoka lumayan perhatian
sama Shato. Ditambah lagi Shato mengalami kecelakaan setelah
mengungkapkan perasaannya pada Honoka.
“Hajimete
atta toki kara kimi ga suki da, Honoka”--Sugiura Shato
[Aku menyukaimu sejak pertama kali
bertemu] hal 100
Nah, kalimat itu cukup membuat saya penasaran juga. Kira-kira apa
yang menyebabkan Shato menyukai Honoka? Apakah sebelum pindah
sekolah, Shato sudah pernah mengenal Honoka? Ah, yang ini rasanya
tidak, ya. Tapi, sikap Shato di awal ketika pertama bertemu Honoka
sama sekali tidak mengindikasikan kalau pemuda itu menyukainya. Atau
mungkin Shato hanya ingin menutupi perasaannya saja, mengingat Shato
juga termasuk lelaki pendiam dan penyendiri—meski tampan.
Ya sudah, cukup sekian saja cuap-cuap nggak penting dari saya.
Sekali lagi, bagaimanapun ini adalah penilaian objektif dari saya
sebagai pembaca. Buat penulis, terus semangat, ya! Meski ada beberapa
cerita di atas yang buat saya bertanya-tanya, tapi saya tetap
menikmati membaca novel ini sampai akhir, kok ^_^ ganbatte!
Review Novel “Yosh!” by Far Choinice
Posted by : Unknown
0 Comments
Well, sebenarnya nggak pengin juga sih corat-coret tentang kehidupan pribadi di blog. Tapi, apa yang ingin saya sampaikan di sini hanya sekadar mau berbagi saja dengan kalian. Sudah pernah merasakan menjadi job seekers? Bagaimana menurut kalian pengalaman tersebut? Pasti akan ada suka dan duka di balik hal itu. Seperti halnya saya saat ini, yang resmi menyandang gelar 'job seekers' semenjak tiga bulan terakhir. Hmm ... rasanya itu nano-nano banget. Sedih, senang, suntuk, sumpek, bahkan sampai bosan setengah mati pun juga saya rasain. Senangnya karena saya bisa beristirahat di rumah dengan tenang, dan ditambah bisa mbolang ke mana pun tanpa peduli waktu :D
Tapi, selain itu rasa penat dan suntuk pastinya langsung menyerang ketika gelar sebagai 'job seekers' seakan nggak bisa lepas dari hidup saya. Yah, realistis saja lah. Waktu dan kehidupan terus berjalan maju. Sedangkan pemasukan untuk diri sendiri terus bertambah. Apalagi jika uang tabungan tak seberapa. Otomatis, mau tidak mau, suka tidak suka, kita pasti harus berjuang dan berusaha untuk segera mendapatkan pekerjaan baru. Jika tidak, siap-siaplah untuk gigit jari ketika sedang menginginkan sesuatu yang tidak bisa kita beli hihi
Seperti saya saat ini, yang sedang kelimpungan mencari pekerjaan. Setiap saat dan bahkan hampir setiap hari harus keluar rumah, berkelana ke sana ke mari untuk berjuang mencari sesuap nasi. Namun, apakah kalian juga merasakan seperti yang saya alami? Ya, tentunya saya juga yakin kalau para job seekers di luar sana juga pasti merasakan hal yang sama.
Ditolak sebuah perusahaan berkali-kali sudah sangat sering saya rasakan. Selama menjadi 'job seekers'-- tiga bulan lebih--saya sudah melamar di hampir 50 lebih sebuah perusahaan. Hasilnya ... ada yang langsung dipanggil, ada yang hanya php saja, bahkan ada yang tidak berkabar sama sekali. Di situ kadang saya merasa sedih huhuuu ... oh ya, ada juga yang sudah menerima saya sebagai pegawai. Tapi, lagi-lagi saya seakan tidak bisa bertahan lama di tempat baru. Hanya beberapa minggu, dan bahkan hanya bertahan sehari saja. Rasanya miris sekali ketika hal itu terjadi. Namun, hal itu bukanlah tanpa alasan.
Di sini, ketika saya memulai pekerjaan di tempat yang baru, kenyamanan adalah hal utama yang saya cari. Ketika saya tidak merasa nyaman dan merasa terintimidasi dalam suatu tempat, maka tanpa basa-basi saya akan langsung pergi meninggalkan tempat tersebut. Tidak peduli apakah perusahaan tersebut memberi gaji yang besar sekali pun.
Oh ya, di detik saya menulis saat ini, sebenarnya hari ini saya juga baru selesai melakukan sesi walk in interview di salah satu PT ternama yang bergerak di bidang telekomunikasi. Mengingat banyaknya para job seekers seperti saya yang datang ke sesi tersebut,membuat waktu saya tersita banyak sekali. Kalian tahu, dari pukul 9 pagi saya baru pulang ke rumah pada pukul 15.30. Waktu yang sangat panjang, bukan? Untungnya saat itu saya tidak sendiri datang ke sana. Ada satu teman saya seorang job seekers juga saat itu. Setelah seharian saya menghabiskan waktu untuk mengikuti sesi walk in interview, saya optimis akan diterima bekerja di sana. Mengingat pimpinan yang sepertinya tertarik dengan CV saya--dalam hal ini mungkin saya memang terlihat terlalu pede, ya hehe--karena pengalaman saya bekerja sebelumnya yang tidak jauh-jauh dari bidang tempat saya melamar.
Namun, ketika jam menginjak pukul 5 sore, teman seperjuangan saya yang tadi saya sebutkan di atas mengirim bbm pada saya. Dia bertanya apakah saya dapat sms dari PT tempat kami melamar tadi. Dari situ saya sudah bisa menebak kalau teman saya pasti diterima. Dan, benar saja, dia mengatakan kalau hari esok dia harus datang untuk proses training. Saya makin galauuuuu rasanya -_- apakah ini karena kepedean saya yang terlalu over? Bukankah setiap hal yang kita lakukan harus disertai dengan rasa optimistis? Ah, ya sudahlah. Rasanya saya jadi makin suntuk ketika harus memikirkan hal itu.
Sampai ketemu di catatan part II, ya. Semoga ketika saya menulis saat itu, saya sudah diterima bekerja di tempat yang saya inginkan. Amiiinnn, ganbatte!!!
Tapi, selain itu rasa penat dan suntuk pastinya langsung menyerang ketika gelar sebagai 'job seekers' seakan nggak bisa lepas dari hidup saya. Yah, realistis saja lah. Waktu dan kehidupan terus berjalan maju. Sedangkan pemasukan untuk diri sendiri terus bertambah. Apalagi jika uang tabungan tak seberapa. Otomatis, mau tidak mau, suka tidak suka, kita pasti harus berjuang dan berusaha untuk segera mendapatkan pekerjaan baru. Jika tidak, siap-siaplah untuk gigit jari ketika sedang menginginkan sesuatu yang tidak bisa kita beli hihi
Seperti saya saat ini, yang sedang kelimpungan mencari pekerjaan. Setiap saat dan bahkan hampir setiap hari harus keluar rumah, berkelana ke sana ke mari untuk berjuang mencari sesuap nasi. Namun, apakah kalian juga merasakan seperti yang saya alami? Ya, tentunya saya juga yakin kalau para job seekers di luar sana juga pasti merasakan hal yang sama.
Ditolak sebuah perusahaan berkali-kali sudah sangat sering saya rasakan. Selama menjadi 'job seekers'-- tiga bulan lebih--saya sudah melamar di hampir 50 lebih sebuah perusahaan. Hasilnya ... ada yang langsung dipanggil, ada yang hanya php saja, bahkan ada yang tidak berkabar sama sekali. Di situ kadang saya merasa sedih huhuuu ... oh ya, ada juga yang sudah menerima saya sebagai pegawai. Tapi, lagi-lagi saya seakan tidak bisa bertahan lama di tempat baru. Hanya beberapa minggu, dan bahkan hanya bertahan sehari saja. Rasanya miris sekali ketika hal itu terjadi. Namun, hal itu bukanlah tanpa alasan.
Di sini, ketika saya memulai pekerjaan di tempat yang baru, kenyamanan adalah hal utama yang saya cari. Ketika saya tidak merasa nyaman dan merasa terintimidasi dalam suatu tempat, maka tanpa basa-basi saya akan langsung pergi meninggalkan tempat tersebut. Tidak peduli apakah perusahaan tersebut memberi gaji yang besar sekali pun.
Oh ya, di detik saya menulis saat ini, sebenarnya hari ini saya juga baru selesai melakukan sesi walk in interview di salah satu PT ternama yang bergerak di bidang telekomunikasi. Mengingat banyaknya para job seekers seperti saya yang datang ke sesi tersebut,membuat waktu saya tersita banyak sekali. Kalian tahu, dari pukul 9 pagi saya baru pulang ke rumah pada pukul 15.30. Waktu yang sangat panjang, bukan? Untungnya saat itu saya tidak sendiri datang ke sana. Ada satu teman saya seorang job seekers juga saat itu. Setelah seharian saya menghabiskan waktu untuk mengikuti sesi walk in interview, saya optimis akan diterima bekerja di sana. Mengingat pimpinan yang sepertinya tertarik dengan CV saya--dalam hal ini mungkin saya memang terlihat terlalu pede, ya hehe--karena pengalaman saya bekerja sebelumnya yang tidak jauh-jauh dari bidang tempat saya melamar.
Namun, ketika jam menginjak pukul 5 sore, teman seperjuangan saya yang tadi saya sebutkan di atas mengirim bbm pada saya. Dia bertanya apakah saya dapat sms dari PT tempat kami melamar tadi. Dari situ saya sudah bisa menebak kalau teman saya pasti diterima. Dan, benar saja, dia mengatakan kalau hari esok dia harus datang untuk proses training. Saya makin galauuuuu rasanya -_- apakah ini karena kepedean saya yang terlalu over? Bukankah setiap hal yang kita lakukan harus disertai dengan rasa optimistis? Ah, ya sudahlah. Rasanya saya jadi makin suntuk ketika harus memikirkan hal itu.
Sampai ketemu di catatan part II, ya. Semoga ketika saya menulis saat itu, saya sudah diterima bekerja di tempat yang saya inginkan. Amiiinnn, ganbatte!!!
Suka Duka Menjadi Job Seekers (Part I)
Posted by : Unknown
0 Comments
Ini adalah penampakan koran yang memuat resensi saya untuk novel "Sejujurnya Aku" karya Aveus Har
Judul Buku : Sejujurnya Aku
Penulis : Aveus Har
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2015
Tebal : 214 halaman
ISBN : 978-602-291-081-7
Berikut adalah versi asli resensi saya sebelum diedit oleh pihak Redaktur:
KETIKA SEBUAH
KEPERAWANAN DIPERTANYAKAN (?)
Judul Buku : Sejujurnya Aku
Penulis : Aveus Har
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2015
Tebal : 214 halaman
ISBN : 978-602-291-081-7
Sejatinya,
dalam sebuah pernikahan, kejujuran dan saling kepercayaan adalah hal yang
utama. Ketika kita memutuskan untuk mengakhiri masa lajang, dari sana juga kita
harus sudah mempersiapkan diri tentang semua hal yang berkaitan dengan
pernikahan. Kehidupan saat masa lajang, jelas akan berbeda ketika kita sudah
menikah nanti. Oleh karenanya, sebelum kita memutuskan untuk memulai kehidupan
rumah tangga yang penuh liku. Sudah sepantasnya kalau kita mulai saling terbuka
tentang segala hal yang kiranya mengganjal dalam diri masing-masing.
Salah
satu novel yang bercerita tentang lika-liku rumah tangga adalah Sejujurnya Aku.
Dalam novel ini dikisahkan tentang seorang wanita bernama Carista yang menikah
dengan seorang Manager Marketing bernama Nathan. Carista yang memiliki impian
mempunyai pernikahan bak kisah di negeri dongeng, tak lantas begitu saja
mendapatkannya.
“Impian
masa kecilku bukanlah menjadi seorang wanita karier dengan kehidupan glamour ala
sosialita, berbelanja barang mewah, dan pergi mengunjungi kota-kota eksotik di
penjuru dunia. Sejak mengenal dongeng pangeran putri, aku ingin menjadi seorang
istri dan seorang ibu, yang hidup bahagia selama-lamanya dengan anak-anak,
suami, binatang peliharaan, taman bunga, dan keceriaan.” (Hal 106)
Justeru
setelah menikah, ketakutan dan kecemasan yang selama ini mengukung dirinya,
perlahan terus menggerogoti. Seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Kesalahan besar yang telah ia lakukan di masa lalu, seakan tidak pernah bisa
hilang dari ingatannya. Apalagi, setiap kali ia akan melakukan malam pertama.
Bayangan masa lalu itu selalu muncul di pikirannya.
Ya,
sebuah hubungan yang tak semestinya dilakukan oleh pasangan yang belum menikah,
telah dilakukan oleh Carista di masa lalu. Masa di mana ia menganggap
pengorbanan dengan menyerahkan keperawanan adalah sebuah bentuk rasa sayang dan
cinta kepada pasangan. Hanya saja, Carista terlanjur menutupi semuanya dari
awal. Ia sama sekali tidak bercerita yang sebenarnya kepada Nathan—suaminya.
“Tidak
akan pernah ada kepastian dalam hidup. Semuanya adalah pertaruhan. Kita harus
mengambil kartu dan membuang kartu. Mengambil risiko dengan melakukan sesuatu.
Bahkan, pejudi andal pun sekali waktu akan terpeleset dengan perkiraannya.
Masalahnya, pejudi andal hanya kehilangan uangnya. Namun, seorang mempelai,
bagaimana menghadapi kehilangan impian pernikahan bahagianya?” (Hal 14)
Awalnya,
Carista berpikir kalau Nathan adalah lelaki yang tidak begitu memedulikan masalah
keperawanan. Tapi, ketakutan yang terus menyesaki pikirannya malah membuat
Carista berpikir kalau Nathan bukanlah lelaki yang seperti di pikirannya.
“Sekarang aku akan menikah
dengan orang yang kupikir tidak memedulikan kesucianku, nyatanya aku salah.”
(Hal 108)
Novel ini
begitu apik dalam menyajikan setiap bagian-bagian ceritanya. Perdebatan masalah
keperawanan yang dibahas di dalamnya pun juga sangat baik. Sama sekali tidak
terkesan menggurui, atau menyudutkan pihak lain. Penulis sangat piawai memaparkan
segala yang berhubungan dengan wanita.


